Label

Jumat, 30 Mei 2014

hukum islam

Hukum Kaos Warna Merah dalam Islam

memakai kaos warna merah

Baju Warna Merah

Ulama berbeda pendapat tentang hukum mengenakan pakaian warna merah bagi laki-laki. Karena terdapat beberapa hadis yang membolehkan dan hadis yang melarang. Berikut rinciannya,
Beberapa dalil yang menunjukkan bolehnya menggunakan pakaian warna merah,
Pertama, dari Hilal bin Amir dari ayahnya (Amir Al-Muzanni), beliau mengatakan,
رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم بمنى يخطب على بغلة , وعليه بُرْدٌ أحمر , وعَليٌّ أمامه يُعَبِّرُ
“Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di Mina di atas Bighalnya, beliau memakai selendang warna merah. Sementara Ali berada di depan beliau, mengeraskan apa yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Abu Daud 3551 dan dishahihkan Al-Albani)
Kedua, dari Al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم مَرْبُوعاً , وقد رأيته في حُلةٍ حمراء , لم أر شيئا قط أحسن منه صلى الله عليه وسلم
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tingginya sedang. Saya melihat beliau mengenakan pakaian warna merah, belum pernah sekalipun saya melihat orang yang lebih tampan dari pada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Bukhari 5400 dan Muslim 4308).
Ketiga, dalam riwayat lain, juga dari Al-Barra’ bin Azib, beliau menceritakan,

مَا رَأَيْتُ مِنْ ذِي لِمَّةٍ فِي حُلَّةٍ حَمْرَاءَ أَحْسَنَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Saya belum pernah melihat ada orang yang rambutnya menjuntai ke telinga, dengan memakai pakaian merah yang lebih tampan dari pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Turmudzi 1646 dan beliau menilai hadis hasan shahih).
Keempat, dari Abu Juhaifah radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,
رَأَيْتُ بِلاَلًا أَخَذَ عَنَزَةً، فَرَكَزَهَا وَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حُلَّةٍ حَمْرَاءَ، مُشَمِّرًا صَلَّى إِلَى العَنَزَةِ بِالنَّاسِ رَكْعَتَيْنِ
Beliau melihat Bilal membawa tongkat kecil, lalu dia tancapkan di depan. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari kemahnya dengan memakai pakaian warna merah. Beliau angkat sarung beliau hingga ke pertengahan betis, beliau shalat dua rakaat menghadap tongkat tersebut mengimami para sahabat. (HR. Bukhari 376, Muslim 503, dan Abu Daud 520).
Kelima, diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam kitab As-Sunan,
أنه عليه الصلاة والسلام كان يلبس يوم العيد بُردةً حمراء
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat id, beliau memakai burdah warna merah.”
Sementara dalil yang melarang menggunakan pakaian warna merah diantaranya,
Pertama, hadis dari Al-Barra bin Azib,
نَهَانَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ المَيَاثِرِ الحُمْرِ وَالقَسِّيِّ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami untuk menggunakan Al-Mayatsir warna merah, dan pakaian Al-Qassi. (HR. Bukhari 5838)
Al-Mayatsir: jamak dari kata mitsarah, semacam karpet kecil terbuat dari sutera dengan campuran katun, yang digunakan oleh penunggang onta untuk duduk. (Keterangan Dr. Musthafa Bagha, ta’liq Shahih Bukhari 7/24).
Al-Mayatsir, berdasarkan keterangan di atas, bukan pakaian tapi karpet untuk duduk.
Al-Qassi: baju yang benangnya campuran antara katun dan sutera, dinisbahkan kepada daerah pembuatnya Al-Qassi yang berada di Mesir.
Kedua, dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma,
مَرَّ على النبي صلى الله عليه وسلم رجلٌ عليه ثوبان أحمران , فسلَّم عليه , فلم يَرُدَّ عليه النبي صلى الله عليه وسلم
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat seseorang yang memakai baju warna merah. Orang itupun memberikan salam kepadanya, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menjawab salamnya. (HR. Turmudzi 2731, Abu Daud 3574, dan hadis ini dinilai dhaif oleh Al-Albani dan ulama lainnya, karena dalam sanadnya terdapat perawi bernama Abu Yahya Al-Qattat yang dinilai dhaif oleh Imam Ahmad, Ibnu Main dan yang lainnya).
Ketiga, dari Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu,
إياكم والحمرة فإنها أحب الزينة إلى الشيطان
“Jauhilah warna pakaian merah, karena pakaian warna merah adalah perhiasan yang paling disukai setan.” (HR. Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir (18/148), dalam sanadnya ada perawi yang bernama Said bin Bisyr, dia didhaifkan oleh Imam Ahmad, Ibnul Madini, Ibn Main, An-Nasai dan lainnya. Sehingga status hadis ini dhaif).
Keempat, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,
نُهِيتُ عن الثوب الأحمر ، وخاتم الذهب ، وأن أقرأ وأنا راكع
“Saya dilarang untuk memakai pakaian warna merah, cincin emas, dan membaca Al-Quran ketika rukuk.” (HR. Nasai 5166 dan Al-Albani mengatakan: sanadnya shahih).

Ikhtilaf Ulama Hukum Mengenakan Kaos Warna Merah

Berdasarkan pemaparan di atas, ulama berbeda pendapat tentang hukum mengenakan pakaian warna merah bagi laki-laki dan batasan pakaian merah yang terlarang. Al-Hafidz Ibn Hajar menyebutkan 8 pendapat ulama dalam kitabnya Fathul Bari (10/306). Berikut keterangan beliau,
1. Boleh memakai pakaian merah secara mutlak. Merah polos maupun merah yang bercampur dengan warna lain. Pendapat ini diriwayatkan dari sekelompok sahabat, diantaranya Ali bin Abi Thalib, Thalhah, Abdullah bin Ja’far, Al-Barra’ bin Azib, dan beberapa sahabat lainnya. Pendapat ini juga yang dipegangi oleh beberpa tabi’in, diantaranya, Said bin Musayib, An-Nakhai, As-Sya’bi, Abu Qilabah, Abu Wail, dan beberapa tabiin lainnya. Pendapat ini yang dipilih oleh Al-Bukhari, sebagaimana yang beliau isyaratkan dalam judul bab di kitab shahihnya. Dan ini merupakan pendapat dalam madzhab Malikiyah, Syafiiyah, dan salah satu riwayat dalam madzhab Hambali.
2. Dilarang secara mutlak, meskipun ada campuran warna lain. Namun Al-Hafidz tidak menyebutkan ulama yang mengambil pendapat ini.
3. Makruh memakai pakaian yang penuh warna merah. Namun jika diberi wanteks warna merah sebagian, dibolehkan. Pendapat ini diriwayatkan dari Atha, Thawus, dan Mujahid.
4. Makruh memakai pakaian warna merah secara mutlak jika tujuannya untuk berhias atau mencari ketenaran. Namun boleh digunakan di rumah atau di tempat kerja. Pendapat ini diriwayatkan dari Ibn Abbas dan merupakan pendapat Imam Malik.
5. Boleh memakai pakaian warna merah, selama warna merahnya berasal dari benangnya. Namun jika kainnya dicelup wanteks merah, tidak boleh digunakan. Ini pendapat Al-Khithabi. Beliau beralasan bahwa pakaian merah yang dikenakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika khutbah di Mina dan ketika shalat id adalah impor dari Yaman. Dan ciri khas kain merah dari Yaman, benangnya diberi warna merah, kemudian ditenun jadi kain. Bukan kain yang dicelum wanteks merah.
6. Larangan ini khusus untuk kain yang mu’ashfar (wanteks kuning matang). Karena ada riwayat lain yang melarang hal ini. Namun jika warna yang lain, boleh.
7. Larangan ini khusus untuk pakaian yang semuanya diwanteks merah. Namun jika ada campuran warna lain selain merah, seperti hitam atau putih, tidak terlarang. Inilah yang dipahami dari hadis pakaian merah Yaman yang dikenakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena kain merah Yaman, umumnya memiliki garis merah atau warna lainnya. Ini adalah pendapat Ibnul Qoyim.
8. Boleh memakai pakaian yang diwanteks dengan semua warna, selama itu bukan pakaian syuhrah (yang mengundang perhatian). Batasannya: mukhalafah ziy ahlil muruah, tidak sama dengan umumnya yang dikenakan orang baik di tempat itu. Ini adalah pendapat Ibnu Jarir At-Thabari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar